胡母抢挖
2019-05-22 06:01:22
发布时间2016年8月12日上午8:09
已更新2016年8月12日上午8:55

Mendikbud Muhadjir Effendy(kedua tengah)saat memantau siswa melakukan pembubutan menggunakan mesin bubut di SMK Pangudi Luhur Leonardo Klaten,Jawa Tengah,pada 10 Agustus 2016. Foto oleh Aloysius Jarot Nugroho / Antara

Mendikbud Muhadjir Effendy(kedua tengah)saat memantau siswa melakukan pembubutan menggunakan mesin bubut di SMK Pangudi Luhur Leonardo Klaten,Jawa Tengah,pada 10 Agustus 2016. Foto oleh Aloysius Jarot Nugroho / Antara


雅加达,印度尼西亚 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan,yang dimaksud dengan sanksi fisik bagi siswa di sekolah adalah saksi yang terukur,bukan berupa pemukulan。

“Bukan berarti sanksi fisik seperti ditempeleng,atau dipukul。 Guru bisa mengukur sejauh mana sanksi fisik bisa ditolerir untuk dikenakan kepada siswa。 Di tentara pun setahu saya tidak ada lagi sanksi ditempeleng。 Tapi kalau sanksi,misalnya,disuruh push-up ,gerak jalan,itu kan biasa,“kata Muhadjir kepada Rappler melalui sambungan telepon,pada Kamis malam,11 Agustus。

Di ranah媒体sosial ramai protes menentang sikap Muhadjir terkait pemberitaan sejumlah媒体。 Laman ,misalnya,memuat pernyataan Muhadjir yang menyebutkan,

“Tindakan kekerasan memang dilarang namun dalam batas tertentu。 Sebab pendidikan bukan hanya tentang kasih sayang,namun pembentukan kepribadian agar anak tahan banting,maka tidak bisa terwujud tanpa pendidikan yang keras。 Maka orangtua harus dapat membedakan kekerasan pendidikan dan pendidikan dalam kekerasan。“

媒体lain juga mengutip Muhadjir yang mengatakan,“Ya,mungkin sekarang itu banyak yang salah paham dalam pemahaman HAM。 Jadi tentang HAM melarang tindakan kekerasan itu setuju tapi dalam batas tertentu,sanksi fisik bisa ditoleransi dalam pendidikan。“

Kepada Rappler,Muhadjir yang baru dilantik sebagai Mendikbud pada 27 Juli 2016 lalu menceritakan,bahwa ia menjawab pertanyaan sejumlah wartawan terkait dengan ,Sulawesi Selatan,beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh orangtua murid。

“Mendidik secara keras itu,misalnya,siswa harus belajar keras。 Belajar sungguh-sungguh。 Kalau diberi tugas,harus menyelesaikan tugas itu。 Siswa didorong untuk berprestasi。 Tidak boleh gampang menyerah。 Supaya anak secara mental tidak lembek,“kata Muhadjir。

Ia mengkhawatirkan,kriminalisasi guru akan menimbulkan kecemasan dan ketidakleluasaan guru dalam mendidik anak di sekolah。 Masyarakat diimbau untuk memahami peranan guru。

“Kalau ada masalah antara guru dan orangtua murid sebaiknya dibicarakan dulu secara baik-baik,”ujar Muhadjir yang sebelum diangkat menjadi Mendikbud adalah Rektor Universitas Muhamadiyah Malang。

Sejak diangkat,Muhadjir sudah meluncurkan ide yang memicu debat publik,misalnya tentang sekolah sehari penuh,atau 。 - Rappler.com