崔卤署
2019-05-22 06:21:17
发布时间2016年8月5日8:36
更新时间2016年8月5日下午8:36

NARKOBA DARI TIONGKOK。 Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN)Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso(ketiga kanan)bersama Deputi Pemberantasan BNN Brigjen Pol Arman Depari(kedua kanan)memberikan keterangan pers dengan menghadirkan tersangka dan barang bukti narkotika jenis sabu-sabu di Kantor BNN Pusat,Jakarta,Selasa (2/8)。 BNN mengungkap sindikat internasional peredaran narkotika jenis sabu yang diperkirakan berasal dari Tiongkok。 Foto oleh Muhammad Adimaja / ANTARA

NARKOBA DARI TIONGKOK。 Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN)Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso(ketiga kanan)bersama Deputi Pemberantasan BNN Brigjen Pol Arman Depari(kedua kanan)memberikan keterangan pers dengan menghadirkan tersangka dan barang bukti narkotika jenis sabu-sabu di Kantor BNN Pusat,Jakarta,Selasa (2/8)。 BNN mengungkap sindikat internasional peredaran narkotika jenis sabu yang diperkirakan berasal dari Tiongkok。 Foto oleh Muhammad Adimaja / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Badan Narkotika Nasional(BNN)menggandeng beberapa negara pemasok narkoba ke Indonesia untuk menghentikan peredarannya。 Salah satu negara yang digandeng adalah Tiongkok melalui National Narcotics Control Commission(NNCC)

Menurut Kepala BNN,Budi Waseso,Tiongkok tidak begitu mengetahui siapa saja oknum di Indonesia yang terlibat dalam bisnis narkoba。 Terlebih bahan dasar pembuat narkoba(前身)mudah diperoleh di Tiongkok karena kerap digunakan sebagai bahan pengobatan。

“Permasalahannya,bahan ini kerap dijual dan jatuh ke tangan orang-orang tertentu lalu disalahgunakan。 Nah,ini yang menjadi permasalahan,“ujar pria yang kerap disapa Buwas itu ketika ditemui di Istana pada Rabu,4 Agustus。

Buwas mengatakan kerjasama dengan Badan Narkotika Tiongkok sudah dimulai sejak tahun 2012 lalu。 Namun,dia merasa perlu diintensifkan karena banyak narkoba yang masuk ke Indonesia berasal dari Negeri Tirai Bambu,termasuk narkotika yang dijual oleh terpidana mati Freddy Budiman。

Dia menyebut narkoba bisa digunakan sebagai senjata dan menghancurkan satu negara。 Sehingga,dia merasa isu itu perlu dicari jalan keluarnya sebab peredaran narkoba turut menjadi permasalahan dunia。

Bentuk tim khusus

Sementara,terkait dengan penyelidikan pengakuan Freddy Budiman,BNN telah membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti hal itu。 Namun,sejauh ini,kata Buwas,timnya belum mendapat bukti otentik dari curhatan Freddy yang ditulis oleh Koordinator KontraS,Haris Azhar di media sosial。

“Sampat saat ini belum ya。 Petunjuk-petunjuk masih berupa informasi。 Salah satunya bagaimana Beliau(Haris.red)memperoleh informasi itu dari alm Freddy dengan menunjuk adanya oknum yang mengatasnamakan BNN untuk mencabt kamera pengawas(CCTV)yang memantau Freddy,“kata dia。

Buwas menyebut akan menginstruksikan untuk menyelidiki kapan hal tersebut terjadi,lokasinya di mana dan siapa saja saksi yang melihat kejadian itu。 Sebab,jika ada CCTV maka penyelidikan lebih mudah。

“Kalau tidak,kami akan cari di daftar siapa yang mengatasnamakan。 Apakah dia memiliki surat perintah。 Jika dia memang betul angota BNN,pasti memiliki surat perintah sebab itu prosedur。 Kalau orang datang dari mana pun,akan ditanya surat perintah,kepentingan dan keperluanny,“ujarnya。

Menurut Buwas,Presiden Joko“Jokowi”Widodo tidak memberikan perintah khusus terkait kasus Haris。 Dia hanya berharap permasalahan narkotika di Indonesia bisa ditangani dimulai dengan menghentikan peredarannya dari negara asing yang menjadi produsen。

Lalu,apa komentar Buwas ketika pernyataannya di markas Slank tempo hari justru disamakan dengan kesaksian Haris mengenai pengakuan Freddy? Dia mengaku apa yang dia omongkan tempo hari dilandasi dengan bukti。

“Ada oknumnya dan saya buktikan。 Saya tidak asal berbicara。 Ada oknum di BNN。 Ada oknum di TNI,panglima TNI membuktikan itu,termasuk oknum di Polri,mereka juga membuktikan。 Saya bicara itu ada data dan faktanya,“tutur pria yang pernah menjabat sebagai Kabareskrim。

Sementara,menurut Buwas yang disampaikan oleh Haris tidak dilandasi dengan bukti。 Selain itu,pernyataan tersebut malah disebarluaskan ke media sosial。

“Ini justru bahaya dan membuat persepsi masyarakat negatif terhadap seseorang atau institusi dan lembaga。 Maka itu kan sama saja dengan memfitnah,“kata dia。

Akibat pernyataan yang tidak dilandasi bukti itu,maka tim hukum dari TNI,BNN,dan Polri kemudian melaporkan Haris Azhar pada Selasa,2 Agustus ke Mabes dengan dugaan telah melakukan pencemaran nama baik。 Saat ini status Haris masih terlapor dan akan dipanggil ke Mabes Polri untuk dimintai keterangan。 - Rappler.com

BACA JUGA: