颛孙刿
2019-05-22 03:44:11
2017年11月4日下午2:55发布
更新时间:2017年12月4日上午12:46

MASIH BEKERJA。 Karopenmas Mabes Polri Brigjen(Pol)Rikwanto mengatakan polisi masih terus bekerja untuk mengusut pelaku teror terhadap Novel Baswedan。 Foto oleh ANTARA

MASIH BEKERJA。 Karopenmas Mabes Polri Brigjen(Pol)Rikwanto mengatakan polisi masih terus bekerja untuk mengusut pelaku teror terhadap Novel Baswedan。 Foto oleh ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Penyidik masih bekerja keras untuk mengungkap pelaku penyiraman air keras kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK)Novel Baswedan,kata Brigjen Polisi Rikwanto,Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri,di Jakarta pada Sabtu,11月4日。

“Belum terungkapnya kasus tersebut bukan berarti penyidik tidak bekerja atau tidak mengungkap namun(ada)kendala teknis yang ditemukan di lapangan,”ujar Rikwanto。

Menurut Rikwanto, penyidik telah memeriksa lima orang yang diduga pelaku namun semuanya disimpulkan tidak terlibat。

“Sudah kurang lebih enam bulan kasus penyiraman belum terungkap juga siapa pelakunya,”kata Rikwanto。

Presiden Joko“Jokowi”Widodo mengatakan pada Jumat,2017年11月3日,bahwa dia akan memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menjelaskan perkembangan penyidikan kasus Novel。

“Di prosesnya sudah sejauh mana。Yang jelas semua masalah harus gamblang,harus jelas,harus tuntas,”kata Jokowi usai meresmikan jalan tol yang menghubungkan Bekasi,Cawang,dan Kampung Melayu(Becakayu)。

Rikwanto mengatakan penyidik biasa menggunakan teknik induktif berdasarkan olah tempat kejadian perkara dan deduktif yaitu menggali dari motif,serta latar belakang,untuk mengungkap sebuah perkara。

Namun karakter penanganan kasus memiliki kesulitan berbeda seperti kasus penyiraman Novel Baswedan,kata dia。

Dia mencontohkan kasus peledakan Kedutaan Besar Indonesia untuk Paris pada 2004 dan 2012 yang belum terungkap sampai sekarang padahal polisi Prancis memiliki kamera pemantau yang canggih。

Contoh lainnya adalah penembakan anggota Provost Polri di Jalan HR Rasuna Said Kuningan,Jakarta Selatan,dan penembakan anggota Polri di Ciputat,Tangerang Selatan。

Rikwanto meminta Novel dan masyarakat umum menyampaikan kepada penyidik informasi yang bisa menjadi dasar pengungkapan kasus ini。

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pihaknya dan kelompok masyarakat sipil lain siap memberikan fakta dan data kepada Presiden Jokowi sebagai dasar untuk membentuk tim gabungan pencari fakta(TGPF)。

“Waktu yang lama cukup menjadi dasar rasional bagi Presiden Jokowi untuk menangkap ada yang ganjil dalam penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan,”kata Dahnil dalam pernyataan pers yang diterima Rappler pada Jumat ,2017年11月3日。

Menurut Dahnil,Jokowi perlu mendengarkan masukan,data dan fakta yang ditemukan oleh kelompok masyarakat sipil terkait kasus Novel。

“Kami,Pimpinan Pusat Muhammadiyah,dan kelompok masyarakat sipil lainnya,termasuk para tokoh mantan komisioner KPK,siap menyampaikan data dan fakta temuan-temuan kami kepada Presiden untuk mendapat gambaran rinci apa sesungguhnya di balik kasus ini,”katanya。 - dengan laporan ANTARA / Rappler.com