阮莛
2019-05-22 12:43:10
发布时间:2017年11月4日下午12点28分
更新时间:2017年11月4日下午12:33

Jumpa pers hasil survei Indo Barometer di Bandung,Jawa Barat pada Jumat,11月3日。 Acara itu juga dihadiri oleh tokoh partai politik di provinsi tersebut。 Foto oleh Yuli Saputra

Jumpa pers hasil survei Indo Barometer di Bandung,Jawa Barat pada Jumat,11月3日。 Acara itu juga dihadiri oleh tokoh partai politik di provinsi tersebut。 Foto oleh Yuli Saputra

BANDUNG,印度尼西亚(更新) - 印度晴雨表merilis hasil survei berjudul Peta dan Profil Calon Gubernur dan Wakil Gubernur 2018 di Jawa Barat pada Jumat,2017年11月3日。

Survei itu dilaksanakan pada 11-15 Oktober 2017 dan melibatkan 800 responden。

Selain tingkat keterpilihan dan pengenalan calon,Indo Barometer mengukur juga tingkat kesukaan masyarakat Jawa Barat terhadap sejumlah figur yang muncul。

Hasilnya?

Dari 800响应,sebanyak 90,1 persen menyukai Ridwan Kamil,83,1 persen Dedi Mulyadi,79,6持有Abdullah Gymnastiar(Aa Gym),76持有Deddy Mizwar,dan 75,4 persen Dede Yusuf。

“Kalau tingkat kesukaan yang paling tinggi Ridwan Kamil。 Ini jadi alasan mengapa tingkat elektabilitas Ridwan Kamil terus naik,karena popularitasnya sudah tinggi,kemudian tingkat kesukaannya juga paling tinggi dibanding calon yang lain,“kata peneliti Indo Barometer Hadi Suprapto Rusli saat jumpa pers di Bandung,Jumat 2017年11月3日。

印度晴雨表juga menggali alasan suka atau tidak suka responden terhadap figur yang muncul dengan pertanyaan terbuka。 Dari jawaban responden,menurut Hadi,banyak temuan yang menarik。

Misalnya,untuk Ridwan Kamil,dari 90,1 responden yang menyukainya,sebanyak 17,8 persen suka karena Wali Kota Bandung itu merakyat dan 16,1 karena pintar atau cerdas。 Sedangkan,dari 1,1 persen yang tidak suka,sebanyak 50 persen mengatakan kurang merakyat,dan 37,5 persen menyebutnya sombong。

Sementara itu,posisi Aa Gym sebagai dai / ulama menjadi alasan mengapa 58,9 persen responden menyukainya tetapi 62,2 persen dari orang yang tidak menyukainya menjadikan poligami sebagai alasan。

Lucunya,penampilan juga menjadi alasan responden suka tau tidak suka calon tertentu。 Hal itu terjadi pada Dedi Mulyadi di mana 16,7 persen dari responden yang tidak menyukainya menyebutkan penampilannya mirip paranormal sebagai alasan。 Sementara itu, 19,9 persen dari responden yang menyukainya beralasan Bupati Purwakarta itu merakyat。

“Ini muncul temuan dari apa yang disampaikan masyarakat dengan pertanyaan terbuka。 Jadi jawabannya tidak kita kontruksikan,“kata Hadi。

Dari aspek kepribadian,Ridwan Kamil unggul di semua aspek kepribadian dengan angka 93,9 persen,ementara Deddy Mizwar 73,1 persen dan Dedi Mulyadi 87,8 persen。

Ridwan Kamil juga dipersepsikan unggul di semua aspek kemampuan,yakni 86,2 persen,lebih tinggi dibanding Dedi Mulyadi 78,5 persen dan Deddy Mizwar 66,0 persen。

“Ini yang jadi salah satu alasan mengapa elektabilitas Ridwan Kamil tinggi dibanding calon lain,”kata Hadi。

Sulit ditebak

Politikus Partai Demokrat Irfan Suryanagara menilai pemilihan gubernur Jawa Barat susah ditebak,berbeda dengan pilkada di daerah lain。 Mengutip pendapat pakar politik,Irfan menilai Pilgub Jabar itu antitesis .. Pendapat Irfan mengacu pada pengalaman partainya saat mengikuti ajang kontestasi Jabar satu itu。

“(Pilgub Jabar)susah ditebak。 Bahkan para ahli mengatakan Jawa Barat ini antitesis。 Pengalaman ini yang kita alami dari 2008,“kata Irfan saat hadir di jumpa pers Indo Barometer di Bandung。

Pada 2008,Partai Demokrat berkoalisi dengan Partai Golkar mengusung pasangan 现任 Danny Setiawan dan kadernya Iwan Sulandjana。 Kontestan lainnya adalah Agum Gumelar dan Nu'man Abdul Hakim yang diusung PDIP,PPP,PKB,PKPB,PBB,PBR,dan PDS ,serta pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf yang diusung PKS dan PAN。

Pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf saat itu sama sekali tidak diunggulkan。 Bahkan pasangan berjuluk HaDe itu tidak terukur oleh survei。 Namun,pasangan tersebut justru memenangkan pemilihan dengan perolehan suara 40,5 persen。 Sementara pasangan yang diusung Demokrat tersungkur di posisi tiga dengan perolehan suara 24,95 persen。

Pil pahit kembali ditelan Demokrat ketika jagoannya Dede Yusuf gagal menjadi gubernur pada Pilgub Jabar 2013,padahal elektabilitas Dede Yusuf unggul di berbagai lembaga survei dengan raihan di atas 40 persen。

Bahkan,lembaga survei mengatakan(berpasangan)dengan sandal jepit pun Dede Yusuf(akan menang)kala itu,”ujar Wakil Ketua DPRD Jawa Barat itu。

Tapi saat pemilihan,Dede Yusuf yang berpasangan dengan Lex Laksamana hanya menempati posisi ketiga dengan perolehan suara 25,24 persen,dikalahkan pasangan Ahmad Heryawan-Dedy Mizwar dengan perolehan suara 32,39 persen dan pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki 28,41 persen。

Dua kali kita pemilukada itu semua antitesis。 Yang tidak pernah diunggulkan,itu yang memenangkan。 Dulu Dede Yusuf 46 persen,Ahmad Heryawan terus anjlok,tiba-tiba Ahmad Heryawan naik ke atas,Dede Yusuf anjlok,Rieke tewas juga,sama-sama。 Ini kenyataan dan itu pengalaman,“tutur Irfan。

Pengalaman itulah yang menurut Irfan membuat Demokrat lebih berhati-hati dalam menentukan calonnya di Pilgub Jabar 2018。

Apakah对立itu akan terjadi di Pilgub Jabar 2018 mendatang?

Peneliti Indo Barometer,Hadi Suprapto Rusli mengatakan,tidak。 Alasannya,semua berdasarkan数据。 Merujuk pada hasil survei yang dilakukan lembaganya,Hadi menilai Ridwan Kamil,calon yang konsisten unggul di atas 40 persen,memiliki peluang yang besar untuk memenangkan Pilgub Jabar。

Hadi beralasan Ridwan Kamil dari segala sisi unggul dalam survei。 Hal inilah yang membuat beda dengan calon yang diunggulkan dalam Pilgub Jabar sebelumnnya。

“Dalam hal posisi tingkat kemampuan dan tingkat kesukaan,Ridwan Kamil cukup tinggi,Nah,ini yang membuat susah sepertinya akan terjadi antitesa seperti yang sebelumnya,”kata Hadi。

Pilgub Jabar belum tersosialisasi

Pemilihan Gubernur Jawa Barat akan digelar pada 27 Juni 2018. Namun hampir setengah masyarakat Jawa Barat belum mengetahui pesta demokrasi yang menentukan pemimpin Jawa Barat untuk lima tahun ke depan itu。

Kondisi itu terungkap dari hasil survei yang dirilis Indo Barometer。 Survei itu memunculkan data sebanyak 41,6 persen dari 800 responden menjawab tidak tahu atau tidak pernah mendengar Pilgub Jabar akan dilaksanakan tahun depan。 Sementara baru 57,1 persen responden yang menjawab mengetahui dan 1,3 persen tidak menjawab。

“Ini menjadi catatan bagi KPU,jika ingin partisipasi pemilih di Jawa Barat tinggi,maka konsekuensinya sosialisasinya harus massif。 Kenapa? Karena sampai detik ini,yang tahu atau pernah mendengar tentang pemilihan gubernur itu hanya 57,1 persen,“kata Hadi。

Meski demikian,partisipasi pemilih justru cukup tinggi。 达里57,1持续响应杨塔胡,塞巴尼亚克98,7持续menyatakan akan ikut memilih。 Sisanya,sebanyak 0,2 persen tidak akan ikut memilih dan 1,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab。

“Troublenya sosialisasi di KPU harus ditingkatkan,”ujarnya。 - Rappler.com