艾郏因
2019-05-22 03:23:13
发布时间2016年8月2日上午1:03
2016年8月2日上午1:24更新

TANYAKAN NASIB KELUARGA。 Keluarga ABK yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf mendatangi Kementerian Luar Negeri untuk mendapat informasi dan pertolongan soal nasib keluarga mereka。 Foto oleh Yudhi Mahatma / ANTARA

TANYAKAN NASIB KELUARGA。 Keluarga ABK yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf mendatangi Kementerian Luar Negeri untuk mendapat informasi dan pertolongan soal nasib keluarga mereka。 Foto oleh Yudhi Mahatma / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Kementerian Luar Negeri mempertemukan sejumlah keluarga awak kapal Charles 001 dengan 2 mantan sandera milisi Abu Sayyaf pada Senin,1 Agustus。 Kedua eks sandera itu bekerja di kapal tunda Brahma 12 dan tongkang Anand 12。

Melalui,pertemuan ini diharapkan dapat memberi penjelasan tentang kondisi terbaru anggota keluarga mereka dan apa yang harus mereka lakukan dalam situasi menunggu upaya pembebasan terealisasi。

Para anggota keluarga tiba di kantor Kemenlu sekitar pukul 10:00 dan didampingi oleh Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia(PWNI)Kemlu,Lalu Muhammad Iqbal。 Dua anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat(DPR)Charles Honoris dan Irine Yusiana Riba Putri ikut menemani anggota keluarga yang datang dari Samarinda,Kalimantan Timur。

Sebanyak 5 orang mewakili 10 orang ABK yang saat ini masih disandera Abu Sayyaf。 “Mereka meminta informasi perkembangan upaya pemerintah untuk pembebasan sandera,”kata Iqbal。

Tuntut uang tebusan Rp 69 miliar

Pertemuan ini diinisiasi Dian Megawati Ahmad,istri ABK bernama Ismail。 Kepada Rappler,Ketua Pusat Pergerakan Pelaut Indonesia(PPI)Andri Sanusi mengatakan ada pesan berisi ancaman。

“Pihak keluarga korban sandera mendapat teror melalui SMS,yang menyatakan bahwa pihak penyandera meminta segera ada tebusan.Jika tidak,para pelaut akan dieksekusi satu-persatu,”kata dia。 Dian,yang juga anggota PPI,menemui Andri untuk berkonsultasi,karena dimintai 250 juta Peso atau setara Rp 69 miliar oleh kelompok yang mengaku berasal dari Al Habsy Misaya,sempalan dari grup Abu Sayyaf。

Saat ini,sudah 42 hari lebih para ABK disandera,tapi belum ada kejelasan dan pemerintah terkesan menutupi informasi。 “Malah pihak keluarga korban justru lebih update informasi hingga keadaan kesehatan ABK yang sedang sakit pun tahu,”kata Andri。

PPI berharap pemerintah berperan lebih aktif dalam menyampaikan perkembangan dan mengupayakan keselamatan warga negaranya yang ditahan。

Selain itu,PPI juga meminta kepada pemerintah untuk memfasilitasi pihak keluarga korban agar mendapatkan bantuan psikologi,guna menenangkan kondisi psikis mereka yang sudah mulai tidak stabil atas insiden tersebut。

Dipertemukan dengan bekas sandera

Setelah pertemuan usai sekitar pukul 13.00,Iqbal mengatakan pemerintah sudah menyampaikan informasi dan perkembangan yang diminta。

“Kami sudah sama-sama menyampaikan bahwa bagi pemerintah dan juga dimonitor terus oleh DPR,kami sepakat keselamatan sandera prioritas utama.Sehingga setiap langkah akan kami kalkulasikan dengan mempertimbangkan keselamatan sandera,”kata Iqbal。

Mengenai adanya teror dari pihak yang mengaku dari kelompok Al Habsy,Iqbal menjelaskan itu merupakan strategi yang digunakan oleh pelaku untuk memindahkan tekanan dari juru negosiasi perusahaan kepada keluarga dan pemerintah。

“Pelaku berharap dengan keluarga merasa tertekan lalu menyampaikan ini ke media dan pemerintah.Tetapi,kami berhasil membalikan keadaan dengan kembali melakukan komunikasi kepada pelaku sekitar pukul 19:00,”tutur Iqbal ketika dihubungi Rappler melalui telepon pada Senin malam,1 Agustus。

Saat ini,kondisinya tekanan sudah berhasil dialihkan kepada juru negosiasi perusahaan。 Artinya,pelaku sepakat untuk hanya menghubungi juru negosiasi yang ditunjuk perusahaan dan tidak lagi menganggu keluarga。

“Kemlu pun sudah menunjuk satu orang yang secara khusus akan terus mengabarkan kepada keluarga perkembangan kasus ini setiap harinya,”kata Iqbal。

Ia juga menyampaikan kalau para sandera saat ini berada dalam kondisi sehat。 Pemerintah,lanjut dia,terus berkoordinasi dengan pihak菲律宾人。 Upaya pembebasan sandera ini akan bisa terealisasi jika ada harmoni antara pemerintah,DPR,perusahaan dan anggota keluarga。

oleh kelompok Abu Sayyaf pada tanggal 20 Juni ketika tengah berlayar dari Filipina selatan menuju ke Samarinda。 Penyanderaan dilakukan dalam 2 tahap dan oleh 2 kelompok yang berbeda。

Dalam aksi penculikan pertama,mereka menawan tiga ABK。 Sedangkan dalam penculikan kedua,kelompok bersenjata membawa empat ABK。 - dengan laporan Santi Dewi / Rappler.com