召砷煅
2019-05-22 09:22:03
发布时间2016年6月22日下午9:41
2016年6月24日上午11:58更新

Suasana buka di tepi jalan raya dr Wahidin Lawang pada Rabu,22 Juni。 Foto oleh Dyah Ayu PItaloka。

Suasana buka di tepi jalan raya dr Wahidin Lawang pada Rabu,22 Juni。 Foto oleh Dyah Ayu PItaloka。

MALANG,印度尼西亚 - Indrawati dan sepuluh wanita paruh baya mulai mengisi nasi dan lauk di atas piring yang tertata rapi di atas meja。 Kali ini menunya adalah sambal goreng kentang dan ayam kecap。 Seperti sehari sebelumnya,sekitar 300 piring disiapkan ibu-ibu anggota Paguyuban Metta dari Vihara Sanggar Suci di Lawang,untuk buka puasa pada Rabu,22 Juni。

“Kami masak sendiri,menunya sudah diatur selama sebulan。 Ini untuk saudara kami yang sedang menjalankan puasa,“kata Indrawati kepada Rappler。

Paguyuban Metta menyiapkan makanan buka puasa gratis di sebuah ruangan bekas garasi di tepi Jalan Wahidin,Kelurahan Kalirejo,Kecamatan Lawang,Kabupaten Malang。 Sekitar pukul 16:30 WIB,penduduk setempat mulai mendatangi tempat tersebut。 Sejumlah pengguna jalan yang sedang lewat juga terlihat menepi dan mengantri untuk membatalkan puasa dengan makanan yang disediakan gratis tersebut。

“Kemarin lauknya telor,besok kari ayam。 Semua kami masak dengan清真karena ini untuk buka puasa umat伊斯兰教。 Rencananya buka puasa ini sampai malam terakhir puasa,“katanya。

疼痛22 Juni,jalan raya sangat ramai。 Suara adzan dari masjid terdekat tenggelam dalam keriuhan deru kendaraan。 Seorang anggota paguyuban pun mengingatkan panitia jika waktu berbuka telah tiba。 Mendengar aba-aba dari panitia,ratusan pengantri segera membentuk barisan dengan tertib dan menunggu piring berisi lauk dibagikan dengan bergantian。

“Ini bukan hanya umat Budha saja,saya Katolik juga ikut bantu di sini,”kata Untari,wanita berusia 67 tahun。 Sudah empat Ramadan terakhir Untari ikut membantu rekannya di Paguyuban Metta menyiapkan buka。

“Kegiatan ini bagus untuk kerukunan antar umat beragama。 Tidak peduli yang datang kaya atau miskin,puasa atau tidak,agamanya muslim atau bukan,yang penting kami ikhlas memberi makan saat Ramadan,“tuturnya。

Buka gratis ditunggu setiap tahun

Ibu-ibu Paguyuban Metta menata nasi dan pengunjung yang menunggu waktu buka。 Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka

Ibu-ibu Paguyuban Metta menata nasi dan pengunjung yang menunggu waktu buka。 Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka

Petang itu Rani,ibu rumah tangga dari Kota Malang,ikut mengantri dalam barisan。 Setelah mendapatkan配对berisi nasi dan lauk,Rani双关语makan bersama suami dan anaknya yang berusia balita。

“Saya sedang dalam perjalanan menuju Lawang dari Malang,mampir ke sini karena sudah hampir Maghrib。 Di sini memang selalu ada buka gratis,“kata Rani。

Seperti yang lain,mereka makan dengan lesehan。 Hanya beberapa yang makan dengan duduk menggunakan kursi yang disediakan panitia。 Di sudut ruangan terdapat teh hangat untuk melepas dahaga juga disediakan gratis。

“Saya selalu kemari setiap Ramadan,makanananya enak,tak masalah bagi saya duduk lesehan,”kata Helix,pria yang tinggal tak jauh dari Vihara tersebut。 Sepotong paha ayam kecap berukuran sedang memenuhi piring nasinya。

Menyediakan菜单daging meskipun素食主义者

Sejak 18 tahun lalu,tepatnya ahun 1998,Winantea Listiahadi,rohaniwan di Vihara Sanggar Suci,memulai tradisi buka gratis itu。 Saat itu sedang krisis moneter,菜单daging dan buah banyak tak terbeli。

“Waktu itu krisis moneter dan harga melambung,saat itu buka gratis ini dimulai lewat paguyuban Metta,”kata Winantea。

Awalnya,buka puasa berada di halaman Vihara Sanggar Suci dan diikuti sedikit orang。 Saat itu panitia menyediakan菜单nasi bungkus untuk berbuka。 Tetapi semakin tahun pesertanya semakin banyak,sehingga membutuhkan tempat yang lebih luas。 Nasi bungkus双关语diganti dengan piring karena pertimbangan efisiensi。

Pengunjung juga bisa menambah menggunakan piring mereka selama nasi dan lauk masih tersedia。 Lima tahun berikutnya buka puasa bergeser sekitar lima meter dari Vihara,dan bertahan hingga saat ini。

Rohaniwan Winantea tak mempermasalahkan menu buka yang menggunakan daging。 Meskipun dirinya dan sebagian besar umat Buddha tak makan daging namun untuk umat muslim menu buka disesuaikan dengan kebutuhan mereka。 菜单seperti ayam kecap,rawon,soto ayam,satai,gule umum mengisi piring peserta buka di kegiatan tersebut。 Paguyuban memilih mengalah dengan selera peserta buka bersama。 Menurutnya toleransi memang membutuhkan pengorbanan。

“Ini agar kerukunan lebih terjalin,”katanya。

Metta sendiri berarti cinta kasih。 Paguyuban Metta sebagian besar berisi umat Buddha namun juga terdapat umat Nasrani dan juga Islam。 “Awalnya arisan tapi kemudian menjadi sosial,tak ada anggaran khusus karena diserahkan pada anggota,”katanya。

Petang itu,usai sajian nasi dibagikan,peserta buka kemudian mengantri kembali。 Kali ini ada sejumlah makanan kecil seperti biskuit dan kue keranjang buatan ibu-ibu paguyuban yang akan dibagikan sebagai makanan penutup。

“Jangan kawatir ini kue keranjangnya empuk,tidak很多,”kata Linawati kepada seorang pengunjung。 - Rappler.com