颛孙刿
2019-05-22 02:30:11
2016年6月9日下午7:11发布
2016年6月9日下午7:22更新

Tradisi mandi tengah hari atau Peh Cun masyarakat Tionghoa di Pontianak,Kalimantan Barat。 Foto oleh S. Ilham A.

Tradisi mandi tengah hari atau Peh Cun masyarakat Tionghoa di Pontianak,Kalimantan Barat。 Foto oleh S. Ilham A.

PONTIANAK,印度尼西亚 - Bentangan Sungai Kapuas di Kota Pontianak,Kalimantan Barat mendadak ramai pada Kamis,9 Juni。 Ratusan warga dari etnis Tionghoa berbondong-bondong ke Sungai Kapuas untuk melakukan ritual mandi tengah hari atau Peh Cun。

Tradisi mandi tengah hari di antara warga dari etnis Thionghoa di Pontianak ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu。 Setiap tahun,kegiatan ini dipusatkan di tepi Sungai Kapuas di samping terminal oplet Siantan,Kecamatan Pontianak Utara,Kalimantan Barat,

Menurut tokoh masyarakat Tionghoa Pontianak,Nicko,tradisi mandi Peh Cun dan makan bakcang ini digelar setiap tahun pada tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek。 Festival mandi tengah hari harus dilakukan antara pukul 11​​:00 WIB hingga pukul 12:00 WIB。

Tradisi mandi Peh Cun ini masih dalam satu rangkaian dengan tradisi makan besar atau Ko Ciat dalam bahasa Tionghoa。

Dalam makan besar ini,setiap keluarga Tionghoa menyiapkan aneka makanan khas yang menjadi tradisi,Makanan khas seperti bakcang menjadi mudah dijumpai。

“Tradisi ini sudah turun temurun dilaksanakan,lokasinya juga selalu sama di pinggiran Sungai Kapuas。Di sini pada festival ini juga dilakukan perang lempar-lempar air hingga basah seluruh badan.Tidak hanya itu,peserta festival juga saling melepar makanan yakni backang,”ujar duta Pariwisata Tionghoa Meimei Jesslyn。

Duta Pariwisata Budaya Tionghoa lainnya,Koko Nicholas,menjelaskan bakcang terbuat dari tepung ketan yang dimakan dengan gula pasir。 “Kalau kita makan dengan gula yang pastinya terasa manis,dengan rasa manis ini setahun ke depan bahkan selamanya kita akan mendapat kehidupan yang manis juga,”ujar Nicholas。

Peserta mandi Peh Cun ini datang dari berbagai kelompok umur, dari usia muda sampai tua。 Mereka tumpah ruah mandi bersama dengan menerjunkan diri ke Sungai Kapuas。

Peserta mandi tengah hari atau Peh Cun di Pontianak,Kalimantan Barat melakukan perang air di Sungai Kapuas。 Foto oleh S. Ilham A.

Peserta mandi tengah hari atau Peh Cun di Pontianak,Kalimantan Barat melakukan perang air di Sungai Kapuas。 Foto oleh S. Ilham A.

“Peserta juga diperbolehkan saling lempar kantong plastik yang berisi air.Saling melempar antara sesama peserta ini justru membuat suasana menjadi meriah。Tak hanya itu,beberapa perahu bermesin pun turut membawa warga yang ingin mandi di tengah sungai atau hana sekadar mengambil air。

Ditanya soal air yang diambil,salah satu warga Tionghoa,Ajung,menjelaskan bahwa masyarakat Tionghoa Pontianak percaya air yang diambil dari sungai pada hari itu bisa menyembuhkan penyakit dan membuang sial。

Biasanya,air yang diambil dari Sungai Kapuas itu dimasak untuk diminum。 Sisanya,bisa dipakai untuk mandi。

Ada kepercayaan lain。 Setelah mandi di tengah Sungai Kapuas,warga menyirami tubuh mereka dengan air bunga sebelum pulang ke rumah。 仪式ini dipercaya mampu membawa keberkahan dan mengusir kesialan serta mara bahaya。

“Tahun ini seperti lebih meriah dibandingkan tahun lalu.warga tua muda tampak antusias mengikuti festival ini.Kami berharap di masa yang akan datang tradisi dan budaya ini dapat masuk agenda pariwisata di Kalbar dan menjadi destinasi pesona pariwisata di Kalbar,”kata Ajung。

Walau terlihat ramai,Peh Cun tahun ini tidak seramai tahun sebelumnya。 Padahal,tradisi ini bisa menjadi议程wisata tahunan khususnya di Kalbar。 - Rappler.com