种卿忡
2019-05-22 05:51:15
发布时间2016年6月7日下午8点01分
2016年6月7日下午8:04更新

JEJAK KOMUNITAS ARAB。 Masjid Assaid di Makassar menjadi bukti penyebaran agama Islam dari Yaman Selatan。 Foto oleh Syarifah Fitriani / Rappler

JEJAK KOMUNITAS ARAB。 Masjid Assaid di Makassar menjadi bukti penyebaran agama Islam dari Yaman Selatan。 Foto oleh Syarifah Fitriani / Rappler

MAKASSAR,印度尼西亚 - Salah satu komunitas suku yang berperan terhadap penyebaran agama Islam di kota Makassar,Sulawesi Selatan adalah suku Arab。 Salah satu di antaranya berasal dari Hadramaut,Yaman Selatan。

Masjid Assaid Makassar menjadi salah satu bukti dan peninggalan jejak penyebaran agama Islam di Sulsel。 Tempat bagi umat Islam beribadah itu berada di tengah
perkampungan masyarakat Tionghoa atau Pecinan dan berusia lebih dari satu abad。

Habib Alwi yang merupakan Imam Rawatib di masjid tersebut mengatakan,Masjid Assaid berdiri sejak tahun 1907 masehi。 Kala itu para sayyid asal kota Yaman Selatan atau desa Hadramaut datang ke Makassar dan hendak menunaikan salat。

Karena berada di tengah pemukiman Kampung Pecinan,para Sayyid atau dikenal Syekh yang dipimpin Syekh Hasan bin Muhammad At-Taufik mendirikan sebuah tempat ibadah yang ukurannya kecil。 Pembangunan masjid turut dibantu oleh syekh lainnya seperti Syekh Ali bin Abdurrahman Shihab yang merupakan kakek Quraish Shihab教授seorang ahli tafsir ternama di Indonesia。 Kini masjid tersebut menjadi masjid Arab tertua di Makassar。

“Lambat发布清真寺mulai dibangun agak besar dari semula。Namun meski masjid ini dibangun oleh para Sayyid keturunan Arab bukan berarti khusus hanya untuk dimanfaatkan oleh keturunan Arab melainkan semua umat Muslim bisa berjamaah di sini,”kata Habib Alwi usai memimpin shalat zuhur berjamaah di Masjid Assaid,Selasa 7 Juni。

Di halaman masjid Assaid terdapat dua pohon kurma yakni yang berada di samping masjid dan telah berusia 24 tahun serta yang berada di depan halaman masjid,usianya 10 tahun。

“Pohon kurma yang ada di depan masjid itu cukup ajaib,sebab bibit hanya 1 biji namun jadi dua pohon。Itulah berkah dari Allah SWT dan saya namakan pohon kurma di depan itu dengan nama Umar Alwi karena saya dan Habib Alwi yang menanamnya,”ujar Habib Umar,yang merupakan keturunan langsung pendiri Masjid Assaid。

Khusus untuk jemaah pria

Jika di masjid lain makmum perempuan diperbolehkan ikut berjemaah,maka di Masjid Assaid justru dikhususkan untuk jemaah pria saja。 Budaya salat para Sayyid itu terus dijaga hingga kini dan menjadi salah satu ciri khas dari masjid Arab ini。

Menurut Habib Alwi,masjid ini dikhususkan hanya untuk jemaah laki-laki。 Namu,n sesekali bisa digunakan oleh jemaah perempuan yang statusnya sebagai musafir。

Di bulan Ramadan,sesuai budaya turun temurun,maka tidak ditemukan makmum perempuan yang melaksanakan salat berjemaah。

“Salah satu hadist juga dituliskan bahwa sebaik-baik ibadah seorang wanita itu lebih baik jika dilakukan di rumah,”ujar dia。

Para jemaah yang ada di Masjid Assaid,lanjut Habib Alwi,semuanya kebanyakan warga dari luar kampung Pecinan。 Di antaranya ada dari Kabupaten Gowa,Jalan BTP Makassar,Jalan Minasaupa dan dari daerah lainnya。

“Kalau masyarakat sini hanya sebagian,karena mayoritas Suku Tionghoa.Tapi di masjid ini sudah beberapa kali mengislamkan masyarakat Tionghoa sekitar,”kata Habib Alwi。 - Rappler.com

BACA JUGA: